Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2024

Jogja, Buku, dan Rindu

 Jika Bandung punya Pidi Baiq Maka Jogja punya Joko Pinurbo Semoga kamu tidak menjawab aku pun punya kamu Karna ini bukan puisi romantis. Buku yang ku baca dikereta sambil terkantuk-kantuk belum habis juga ternyata Suara bising kereta seolah jadi nyanyian tidur Meninabobokan mimpi Ah boleh aku berbisik pada masinis agar mempercepat laju keretanya Ternyata pergi kekampung orang membuatku rindu kampung sendiri Jika setiap pagi selalu disuguhkan nasi uduk Di Jogja aku rindu Ku cari nasi uduk yang terlihat dimata gudeg lagi gudeg lagi Tapi aku suka Butuh seminggu untuk jatuh cinta pada Jogja Dan butuh sewindu untuk memuaskan hasrat rindu pada Jogja

Perayaan Patah Hati

Belum juga dimulai tapi sudah dipaksa berakhir Menyenangkan sekali menjadi perempuan Mencintai dalam diam berakhir dipesta pernikahan  sebagai tamu undangan Menyenangkan sekali menjadi perempuan Belajar buka hati berakhir patah hati Menyenangkan sekali menjadi perempuan Dipaksa memilih tetapi disalahkan jika tidak terpilih Ternyata benar ya Tempat termulia untuk perempuan hanya dalam rahim ibunya Ucapan paling mulia untuk perempuan hanya dalam doa ibunya. Selamat menikmati patah hati paling menyenangkan Terimakasih.

Jalan Jinjit

 Menjadi perempuan itu sulit Berjalan saja mesti jinjit Ingin terlihat apa adanya Namun mereka ingin lihat ada-apanya.

Belum Gagal

 Sedikit terlambat bukan berarti gagal, kan? Setiap orang punya garis start dan finishnya masing-masing. Terimakasih untuk aku yang pernah hampir menyerah, merasa "nyasar" dipersimpangan jalan,  Merasa salah milih jalan. Benar ya kata orang "Lebih mudah memulai dari awal dibanding harus menyelesaikan yang pernah dimulai". Meski berat Semua hal baik akan terasa menyenangkan. Semoga.

Selamat Berbahagia

 Terimakasih luka Kini aku berbahagia Melihatmu bahagia Dan aku memetik bahagiaku  Sendiri Mencintaimu Aku menjelma Sepi. Riuhku tak terdengar Lagi Ku kira  Karena kurangnya aku berteriak Nyatanya, Sudah ada yang berbisik rayu Pada kedua telingamu  Selamat menikah Dan berbahagia.

Jam Makan Siang

 Dijam makan siang Semua perut berteriak "Mana makananku?" Tetapi mereka lupa Berterimakasih Kepada para petani Yang merawat padi dengan penuh cinta Tengkulak yang menjual beras Dan kepada para ibu  Yang selalu berbohong Sudah kenyang Padahal ia belum makan sedari pagi.

Taburan Cinta

 Kita menemukan cinta bertebaran dimana-mana Disaku celana ayah  dan dijari-jemari ibu

Isi Hati Pujangga

 Pujangga musiman, menangis  dipinggir kolam Membawa secarik kertas Berisi Biru Jangan bersedih! Ini bukan kali pertama baginya. Namun kali ini berbeda Sudah dijanjikan awalnya

Tak Pernah Sepadan

Sudah ya, Hidup yang abu Akan berwarna pada akhirnya Berbahagialah atas kebahagianmu sendiri Kamu kumpulkan kebahagiaanmu Aku kumpulkan Semangat aku. Pada akhir yang patah dan rindu yang basah Semua orang berbisik Kita tak akan pernah Sepadan.